ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Saya ingin curhat. Mungkin hal ini Mommy alami juga.
Saya adalah seorang ayah dengan tiga orang anak, yang punya keinginan sama dengan Mommy; ingin anak tumbuh cerdas dan berprestasi. Tapi, jujur saja, saya khawatir dan dilematis dengan kondisi pendidikan saat ini.
Di satu sisi, kita ingin sebagai orang tua sekolah mampu mengeluarkan dan mengoptimalkan semua potensi hebat anak-anak kita. Tapi di sisi lain, sistem dan kultur pendidikan Indonesia tak bisa mewujudkan harapan itu. Bahkan cenderung malah mematikan bakat anak-anak kita.
Contohnya begini, sudah menjadi kelaziman selama ini bahwa standar “pintar” yang berlaku di sekolah maupun lingkungan kita adalah jika anak memiliki nilai tinggi dimata pelajaran eksakta,. Artinya jika anak tidak memiliki nilai baik di mata pelajaran tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa anak itu “bodoh.”
Saya dulu pun begitu, ada semacam anggapan bahwa anak-anak yang tidak pandai matematika adalah anak bodoh, sedangkan yang pintar matematika adalah anak pintar.
Padahal sebenarnya setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang berbeda-beda.
Sedikitnya anak, menurut penelitian, punya delapan jenis kecerdasan! Hey, Moms.. ingat, anak itu punya 8 jenis kecerdasan. Tidak hanya satu kecerdasan saja lho.
Apa saja 8 jenis itu? Yaitu; kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan musical, kecerdasan visual & spasial, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis.
Saya adalah seorang ayah dengan tiga orang anak, yang punya keinginan sama dengan Mommy; ingin anak tumbuh cerdas dan berprestasi. Tapi, jujur saja, saya khawatir dan dilematis dengan kondisi pendidikan saat ini.
Di satu sisi, kita ingin sebagai orang tua sekolah mampu mengeluarkan dan mengoptimalkan semua potensi hebat anak-anak kita. Tapi di sisi lain, sistem dan kultur pendidikan Indonesia tak bisa mewujudkan harapan itu. Bahkan cenderung malah mematikan bakat anak-anak kita.
Contohnya begini, sudah menjadi kelaziman selama ini bahwa standar “pintar” yang berlaku di sekolah maupun lingkungan kita adalah jika anak memiliki nilai tinggi dimata pelajaran eksakta,. Artinya jika anak tidak memiliki nilai baik di mata pelajaran tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa anak itu “bodoh.”
Saya dulu pun begitu, ada semacam anggapan bahwa anak-anak yang tidak pandai matematika adalah anak bodoh, sedangkan yang pintar matematika adalah anak pintar.
Padahal sebenarnya setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang berbeda-beda.
Sedikitnya anak, menurut penelitian, punya delapan jenis kecerdasan! Hey, Moms.. ingat, anak itu punya 8 jenis kecerdasan. Tidak hanya satu kecerdasan saja lho.
Apa saja 8 jenis itu? Yaitu; kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan musical, kecerdasan visual & spasial, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis.
Nah, celakanya, sekolah formal saat ini cenderung membatasi bahwa yang namanya cerdas itu adalah anak yang jago atau menonjol sisi logis matematisnya. Artinya bahwa 7 kecerdasan yang lain tidak dianggap!
Hasilnya potensi kecerdasan anak di bidang musik, misalnya, jadi terkubur dan mati. Betapa mengerikannya pendidikan yang demikian.
Maka sangat disayangkan bahwa sekolah yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi hebat dengan segenap potensinya malah berbuah menjadi tempat untuk “membunuh” potensi anak.
Saya sebagai orang tua sering bertanya-tanya, apa benar sekolah menjadi tempat yang tepat untuk mendidik, mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh anak? Keresahan ini berawal dari perenungan saya terhadap proses pendidikan yang saya alami sejak kecil hingga dewasa.
Ayah saya adalah guru. Beliau punya keinginan agar anak-anaknya sekolah hingga tinggi. Saat di bangku sekolah formal, dari TK sampai universitas, saya merasakan bahwa saya banyak belajar hal – hal yang abstrak, menghafal rumus, menghafal materi pelajaran. Kini saya sadar bahwa yang saya pelajari dahulu banyak yang tidak terpakai dalam kehidupan.
Saat saya sekolah dulu, saya juga merasakan keterpaksaan untuk menyukai sesuatu yang tidak saya sukai. Misalnya saya tidak suka dengan pelajaran matematika tapi saya dipaksa untuk mengikuti pelajaran yang tidak saya sukai itu, akhirnya saya selalu mendapatkan nilai jelek pada pelajaran matematika dan saya mendapatkan cap sebagai “anak bodoh.”
Tentu sangat tidak menyenangkan mendapatkan cap seperti itu. Sedangkan saat itu saya sangat suka dengan menulis tapi saya tidak bisa leluasa mengembangkan minat saya di bidang kepenulisan.
Saya yakin apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh Mommy sekalian, karena sekolah-sekolah yang ada saat ini masih menggunakan cara pandang yang mengeneralisir bahwa semua anak harus memiliki standar kecerdasan yang sama padahal realitasnya masing-masing anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, seperti ada anak yang pintar dalam bidang logika dan matematika tapi lemah dalam kemampuan linguistiknya, ada juga anak yang menonjol atau pandai dalam kemampuan kinestetiknya tapi lemah dalam logis matematikanya
Saat saya sekolah dulu, saya juga merasakan keterpaksaan untuk menyukai sesuatu yang tidak saya sukai. Misalnya saya tidak suka dengan pelajaran matematika tapi saya dipaksa untuk mengikuti pelajaran yang tidak saya sukai itu, akhirnya saya selalu mendapatkan nilai jelek pada pelajaran matematika dan saya mendapatkan cap sebagai “anak bodoh.”
Tentu sangat tidak menyenangkan mendapatkan cap seperti itu. Sedangkan saat itu saya sangat suka dengan menulis tapi saya tidak bisa leluasa mengembangkan minat saya di bidang kepenulisan.
Saya yakin apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh Mommy sekalian, karena sekolah-sekolah yang ada saat ini masih menggunakan cara pandang yang mengeneralisir bahwa semua anak harus memiliki standar kecerdasan yang sama padahal realitasnya masing-masing anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, seperti ada anak yang pintar dalam bidang logika dan matematika tapi lemah dalam kemampuan linguistiknya, ada juga anak yang menonjol atau pandai dalam kemampuan kinestetiknya tapi lemah dalam logis matematikanya
Sehingga sudah sangat mendesak bahwa sekolah-sekolah kita itu harus diubah menjadi lingkungan yang menerima dan mampu mengoptimalkan semua potensi hebat anak.
Nah, ada beberapa alternatif pendidikan yang dipercaya dapat mengakomodasi pertumbuhan potensi anak dengan optimal, salah satunya adalah metode Home Schooling yang cocok danfleksibel untuk benar-benar menumbuhkan dan mengembangkan potensi hebat anak.
Tapi tentu saja metode ini tetap ada kurang dan lebihnya akan tetapi metode ini lebih mendekati kebutuhan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.
Sudah tahu homeschooling, Moms?
Nah, ada beberapa alternatif pendidikan yang dipercaya dapat mengakomodasi pertumbuhan potensi anak dengan optimal, salah satunya adalah metode Home Schooling yang cocok danfleksibel untuk benar-benar menumbuhkan dan mengembangkan potensi hebat anak.
Tapi tentu saja metode ini tetap ada kurang dan lebihnya akan tetapi metode ini lebih mendekati kebutuhan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.
Sudah tahu homeschooling, Moms?
Jadi, menurut referensi, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari metode Home Schooling ini.
Memang home schooling punya banyak kelebihan, antara lain: Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga, Kegiatan pembelajarannya bisa lebih fokus, Lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah, Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini dan mengikuti standar waktu yang ditetapkan oleh home schooling, Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang dan Biaya pendidikan disesuaikan dengan keadaan orang tua, home schooling dapat menjadi alternatif bentuk layanan pendidikan bagi anak autis.
Namun di sisi lain, home schooling juga punya kekurangan lho. Yaitu; Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua, Sosialisasi dengan teman sebaya menjadi relatif rendah, Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial, Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi sebelumnya dan Kematangan kepribadian anak otomatis terlambat karena jarang terpapar dengan masalah interaksi sosial.
Ternyata memang semua metode ada kurang dan lebihnya, tapi setidaknya kita sebagai orang tua bisa memilih metode terbaik dari yang ada tersebut, karena tantangan masa depan anak-anak kita akan jauh lebih kompleks dengan tantangan yang kita hadapi.
Memang home schooling punya banyak kelebihan, antara lain: Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga, Kegiatan pembelajarannya bisa lebih fokus, Lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah, Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini dan mengikuti standar waktu yang ditetapkan oleh home schooling, Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang dan Biaya pendidikan disesuaikan dengan keadaan orang tua, home schooling dapat menjadi alternatif bentuk layanan pendidikan bagi anak autis.
Namun di sisi lain, home schooling juga punya kekurangan lho. Yaitu; Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua, Sosialisasi dengan teman sebaya menjadi relatif rendah, Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial, Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi sebelumnya dan Kematangan kepribadian anak otomatis terlambat karena jarang terpapar dengan masalah interaksi sosial.
Ternyata memang semua metode ada kurang dan lebihnya, tapi setidaknya kita sebagai orang tua bisa memilih metode terbaik dari yang ada tersebut, karena tantangan masa depan anak-anak kita akan jauh lebih kompleks dengan tantangan yang kita hadapi.
Masa kita akan berbeda dengan masa anak-anak kita kelak, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membuat persiapan terbaik dalam mendidik anak-anak kita menjadi manusia yang benar-benar berkualitas.
Satu hal yang harus selalu kita camkan bahwa tidak ada anak-anak yang bodoh, yang ada adalah anak-anak yang memiliki berbagai macam kecerdasan beragam, tinggal kita arahkan saja sesuai potensi dan minat si anak agar kelak dia benar-benar menjadi dirinya sendiri dan tumbuh dengan potensi serta kemampuan hebat yang ia miliki.
Saya kira hal tersebut menjadi paradigma yang tidak boleh hilang dari benak para orang tua dalam mendidik anak, jangan sampai kita mengikuti kebiasaan atau kultur lingkungan kita yang seringnya terjebak pada formalitas nilai di atas kertas yang akhirnya mengkerdilkan potensi hebat yang dimiliki oleh anak-anak kita.
Kita menyiapkan anak-anak untuk masa depan, bukan untuk masa lalu orang tuanya.
Satu hal yang harus selalu kita camkan bahwa tidak ada anak-anak yang bodoh, yang ada adalah anak-anak yang memiliki berbagai macam kecerdasan beragam, tinggal kita arahkan saja sesuai potensi dan minat si anak agar kelak dia benar-benar menjadi dirinya sendiri dan tumbuh dengan potensi serta kemampuan hebat yang ia miliki.
Saya kira hal tersebut menjadi paradigma yang tidak boleh hilang dari benak para orang tua dalam mendidik anak, jangan sampai kita mengikuti kebiasaan atau kultur lingkungan kita yang seringnya terjebak pada formalitas nilai di atas kertas yang akhirnya mengkerdilkan potensi hebat yang dimiliki oleh anak-anak kita.
Kita menyiapkan anak-anak untuk masa depan, bukan untuk masa lalu orang tuanya.
Oleh: Yudi, seorang ayah.
.
.
Nb. Tahukah Anda, bahwa setiap anak mempunyai masa golden age? Yaitu pada usia balita. Pada usia ini, pertumbuhan anak dalam masa emas. Karena itu banyak orang tua yang sangat memperhatikan kebutuhan gizi anak pada masa balita ini. Salah satunya adalah gizi untuk pertumbuhan otak anak.
Karena itu, kini ada vitamin yang bisa membuat anak lahap makan tapi juga diperkaya dengan ekstrak ikan sidat yang telah terbukti mengandung kandungan gizi yang sangat baik untuk otak anak. Lebih lanjut silahkan baca aja di: https://gizid.at/CaraBikinAnakCerdas
0 Response to "MENGEJUTKAN! Benarkah Sekolah Tempat Terbaik Untuk Mendidik Anak? "
Posting Komentar